Arsip untuk Desember, 2011

Tipografi memainkan peranan yang sangat besar dalam desain. Hampir di setiap materi desain grafis, terdapat seni tipografi didalamnya. Dengan perkembangan yang sudah begitu jauh, Tipografi mengalami berbagai pergeseran dan hadir dengan seperangkat istilah-istilah akademis yang cukup kompleks. Sehingga tidak jarang membingungkan, tidak hanya dikalangan awam, tapi bahkan desainer grafis itu sendiri. Salah satu bentuk salah paham yang paling sering muncul adalah terkait perbedaan antara Typeface dan Font.

Typeface seringkali disebut Font atau sebaliknya, Font juga sering disebut sebagai Typeface. Perbedaan ini sering menyebabkan salah pemahaman di dunia tipografi dan desain grafis pada umumnya. Sejatinya, kedua istilah ini memiliki pengertian yang berbeda.

Typeface
Typeface adalah rancangan karakter dari sekumpulan huruf. Typeface merupakan “perwajahan” yang membentuk karakteristik suatu kumpulan huruf sehingga membedakannya dengan jenis huruf yang lain.

Font
Font adalah suatu kumpulan lengkap dari huruf, angka, simbol, atau karakter yang memiliki ukuran dan karakter tertentu.

Perbedaan Typeface dan Font:

Secara sederhana, Typeface bisa disebut sebagai entitas, yakni perwajahan, karakteristik, keunikan, dan perbedaan yang terbentuk didalam rancangan karakter huruf. Sedangkan font bisa disebut sebagai kuantitas, yakni bobot, massa, dan jumlah dari serangkaian karakter huruf.

Tidak semua typeface bisa disebut font, misalnya typeface yang dirancang hanya sebagian huruf untuk keperluan logo. Sebaliknya, tidak juga semua font bisa disebut typeface, font jenis dingbat (ornamen dan karakter) misalnya, Karena bukan merupakan rancangan huruf.Typeface untuk Logo

Font jenis Dingbat

Analogi sederhana dan menarik disampaikan oleh Nick Sherman mengenai perbedaan typeface dan font :
“The way I relate the difference between ‘typeface’ and ‘font’ to my students is by comparing them to “‘songs’ and ‘MP3s'”
————————————
“Cara saya menjelaskan perbedaan antara ‘typeface’ dan ‘font’ untuk murid-murid saya adalah dengan membandingkan mereka dengan ‘lagu’ dan ‘MP3′”

Semoga bermanfaat!

Brief dalam Merancang Logo
Brief dalam desain logo layaknya sebuah senter di dalam gelap, dia harus dihidupkan agar kita dapat berjalan dengan cepat dan aman. Brief bertujuan agar desainer dan klien fokus kepada tujuan utama dari perancangan logo. Tanpa brief desain, proyek yang dijalankan akan merugikan kedua belah pihak baik desainer maupun klien. Desainer akan mengerjakan sesuatu yang mungkin diluar harapan dan tujuan klien sehingga akan terjadi revisi pekerjaan berulang-ulang. Sedang bagi klien, goal yang diharapkan dari logo yang dirancang bisa jadi diluar perkiraan.

Lantas apa-apa saja yang harus ditanyakan dalam brief desain?

Setiap desainer pasti punya poin-nya sendiri ketika merumuskan sebuah brief untuk desain. Tidak ada yang mutlak disini, semua tergantung kebutuhan dan proyek yang dikerjakan. Mungkin secara umum, kamu yang sama sekali belum pernah bekerja menggunakan materi brief untuk mendesain logo, mungkin bisa mendapat gambaran dari materi brief dibawah ini :

1) Informasi dasar tentang nama perusahaan, kata-kata apa saja yang harus dimasukkan dalam logo? Apa keunggulan (plus point) dari perusahaan serta apa visi dan misinya?

Berisi pertanyaan mendasar tentang entitas yang akan dirancang logonya. Mulai dari konten yang harus include dalam logo, sampai keunggulan serta visi dan misi perusahaan. Melalui pertanyaan ini, desainer mencoba mengenali karakteristik perusahaan hingga bisa menyimpulkan langkah-langkah apa yang akan disusun untuk memulai proses desain.

2) Apa tujuan dari proyek logo ini? Apa karena kompetisi, Identifikasi produk atau meningkatkan citra perusahaan?

Pertanyaan ini bertujuan untuk mengenal goal dari proyek mendesain logo. Apa target yang ingin dicapai klien melalui logo baru? Dengan mengenal target/tujuan, maka desainer telah mengenal lawan. Tinggal bagaimana menyusun strategi agar output desain menjadi maksimal serta sesuai dengan apa yang diharapkan.

3) Siapa kostumer perusahaan? contoh: usia, jenis kelamin, jabatan, kondisi sosial / ekonomi, pekerjaan, dll. Apakah mereka sudah tahu tentang produk atau jasa Perusahaan? Apa perusahaan cukup familiar bagi mereka?

Poin ini merupakan salah satu bagian vital yang harus disertakan dalam materi brief. Pada dasarnya, semua logo bertujuan untuk mengidentifikasi, dikenali, serta membuat koneksi antara target dengan perusahaan. Penting kiranya untuk mengenal target konsumen sebelum mendesain. Tujuannya adalah agar logo yang dirancang nantinya tepat sasaran serta tepat guna.

4) Siapa kompetitor perusahaan? Bagaimana perbedaan perusahaan dari kompetitor?

Poin ini berfokus kepada kompetisi pada pasar penjualan si perusahaan. Jika perusahaan ternyata tidak sendirian (ada kompetitor), maka dibutuhkan adanya diferensiasi yang kuat antara perusahaan klien dengan kompetitornya, ini adalah salah satu tugas utama bagi para perancang logo.

5) Apakah ada pertimbangan produksi? contoh : logo harus terlihat baik dalam kondisi satu warna untuk cetak kaos. Apa-apa saja media yang dipakai untuk mendistribusikan logo? (Cetak, web, dll)

Salah satu aspek yang berpengaruh kepada sukses tidaknya suatu logo sangat ditentukan kepada seberapa konsisten logo tersebut diaplikasikan/digunakan. Bicara soal penggunaan, maka kita akan bicara seputar media yang akan digunakan untuk menampilkan logo. Pertimbangan produksi seperti ini harus sudah lebih dulu dipertimbangkan oleh desainer sebelum memulai proses desain.

6) Apa ada beberapa logo yang menurut anda menarik? Bisa jelaskan kenapa?

Penting kiranya untuk mengetahui taste klien sebelum mulai merancang logo. Terkadang, taste dan pertimbangan estetis klien seringkali menjadi penentu akhir dari sebuah proyek desain.

7) Apakah ada sesuatu yang spesifik yang harus diingat audiens setelah melihat logo?

Terkadang beberapa perusahaan punya “nilai jual”-nya masing-masing, semacam karakteristik yang membedakannya dengan yang lain. Dan seringkali, klien menginginkan “nilai jual” tersebut lebih diexpose. Tugas desainer lah untuk meng-combine “nilai jual” tersebut dengan keseluruhan informasi yang didapat dari brief tanpa mengganggu (atau malah merusak) keseluruhan proses desain.

Thats it!

Materi ini hanyalah gambaran umum tentang bagaimana cara mengumpulkan informasi untuk desain logo melalui brief. Kamu bisa mengembangkan sendiri dengan versi yang lebih baik. Semoga bermanfaat!