Arsip untuk Juni, 2011

Salah satu prinsip dasar yang paling penting dalam desain grafis adalah kontras. Kontras berfungsi mengidentifikasi pesan dan menciptakan fokus. Sehingga, secara hirarki audiens dipandu untuk mencerna pesan dan informasi sesuai dengan yang diharapkan. Terlepas dari peran kontras dalam hal fungsi, kontras juga mampu meningkatkan nilai estetis jika digunakan dengan tepat.

Contoh sederhana bagaimana kontras berperan bisa dilihat dari billboard-billboard yang ada dipinggir jalan. Audiens (pengguna jalan) terlalu sibuk. Mereka hanya punya waktu beberapa detik saja untuk melihat dan memahami isi pesan. Jika dalam rentang waktu tersebut desain tidak mampu mentransfer informasi, maka seketika itu pula desain tersebut telah gagal.

People ignore design that ignores people
Frank Chimero

Pada dasarnya, prinsip kontras sederhana, yaitu perbedaan. Kontras akan muncul dengan sendirinya apabila kita membuat perbedaan antara elemen yang satu dengan lainnya. Berikut adalah beberapa bentuk kontras yang umum digunakan desainer grafis dalam sebuah karya :

1) Ukuran

Besar-kecil adalah cara paling lazim yang digunakan untuk membuat kontras. Secara naluri, mata kita lebih cepat dalam menangkap suatu elemen yang lebih besar ukurannya. Desain dibawah ini contohnya, tingkat kontras antara judul dengan body text sangat tinggi. Differensiasi seperti ini selain mengundang perhatian juga mengandung nilai estetika tersendiri.

2) Warna

Logo ‘sertifi’ dibawah ini memvisualisasikan kedalaman dengan membuat kontras antar warna. Karena itu, kita dapat melihat bahwa seolah-olah, jari-jari tersusun mulai dari yang paling dekat sampai dengan yang paling jauh. Padahal ini hanya desain 2 dimensi sederhana dengan menggunakan dua warna.

3) Tekstur

Poster iklan dibawah ini menggambarkan sebuah tangan yang menggenggam kaleng minuman. Kendati warna tangan dan background hampir sama, namun perbedaan tetap muncul. Disini digunakan prinsip kontras yang mengacu kepada tekstur. Tangan dengan tekstur air dapat mudah dibedakan dengan background yang bertekstur butiran air.

4) Posisi

Suatu elemen yang keluar dari barisan atau suatu keteraturan akan tampak mencolok dan berbeda sehingga menciptakan kontras. Layout brosur dibawah adalah contoh sederhana bagaimana judul sangat menarik perhatian karena terletak di posisi yang beda dengan konten yang lain.

5) Bentuk

Logo ‘Oil’ dibawah ini sangat cerdas, sederhana dan fokus. Logo ini menggambarkan tetesan tumpahan minyak. Meskipun memiliki kesamaan warna dengan typeface yang digunakan, kita dapat dengan mudah menangkap tetesan minyak ini karena perbedaan bentuk.

6) Pergerakan

Hanya perlu beberapa detik saja bagi siapapun untuk dapat mengerti pesan dan identitas visual yang ditonjolkan dari logo ‘Killed Production’ dibawah ini. Huruf ‘i’ yang memiliki bentuk dan warna yang sama dengan huruf lain tetap menarik perhatian karena arah pergerakan yang berbeda.

Kontras memegang peranan penting dalam desain grafis, apapun bentuknya. Keberhasilan sebuah desain sangat dipengaruhi oleh bagaimana penggunaan kontras didalamnya. Contoh lain yang bisa saya gambarkan adalah bagaimana kontras pada tombol Add to Cart di toko-toko online bisa berpengaruh kepada tingkat penjualan.

Less is More! Mungkin ungkapan ini sudah tidak asing ditelinga para desainer grafis. Suatu ungkapan yang mengacu kepada pentingnya kesederhanaan dalam mengkomunikasikan pesan visual. Dalam desain logo, hal ini merupakan aturan standar, dipakai oleh desainer logo diseluruh dunia dan diturunkan dari generasi ke generasi. Hingga kadang, kita sendiri melupakan esensi utama untuk mencari tahu kenapa aturan kesederhanaan ini digunakan.

Mari kembali ke pertanyaan sederhana ini : “Kenapa logo harus sederhana?

Berikut beberapa pemikiran pribadi berbuah alasan kenapa kesederhanaan dalam logo itu penting :

1) Mudah Diingat

Ditengah kepungan lautan merek yang setiap hari tertangkap mata, maka mengingat salah satunya akan menjadi hal yang sangat sulit. Pada dasarnya, otak manusia menangkap suatu elemen visual dalam bentuk-bentuk dasar seperti lingkaran, segitiga, segi empat, dsb. Kemudian berlanjut kepada menangkap tampilan-tampilan yang lebih detail dan rumit. Oleh karena itu, semakin sederhana bentuknya, maka akan semakin berpeluang sebuah logo membekas di benak audiens.

2) Timeless

Sebuah logo yang sederhana tidak akan mudah termakan waktu dan perkembangan trend. Sederhana tidak berarti membuat jenuh. Malah sebaliknya, kesederhanaan akan memperkuat karakter dari sebuah merek. Kesederhanaan bersifat pasti, jelas, dan tanpa embel-embel yang membingungkan.

3) Konsisten

Sebuah logo bisa saja dikatakan baik dengan melihat visualnya saja. Tapi untuk melihatnya berhasil dan bekerja efektif, perlu adanya penerapan secara konsisten dalam setiap media promosi yang digunakan. Hal ini akan sulit dilakukan jika logo terlalu rumit. Kesederhanaan bentuk akan membuat konsistensi logo terjaga, bahkan ketika diukir di atas aspal sekalipun.

4) Efisien

Basa-basi (dalam bentuk apapun) selalu saja berhasil membuang-buang waktu, termasuk dalam desain logo. Berikan apa yang dibutuhkan audiens secara langsung, jangan buat mereka berfikir dan menerka-nerka. Logo yang sederhana akan sangat efisien menciptakan komunikasi langsung, jelas, dan tidak membuang-buang waktu.

JENIS JENIS LOGO

Posted: Juni 28, 2011 in Desain Grafis, Font, Tipografi

Setiap harinya, kita melihat banyak sekali logo bertebaran dimana-mana. Mulai dari logo-logo website ketika sedang browsing, sampai kepada logo-logo perusahaan maupun lembaga disepanjang jalan-jalan kota. Kita juga melihat berbagai macam variasi dalam logo-logo tersebut, Mulai dari yang elegan, simple, rumit, sampai yang aneh sekalipun ada. Namun demikian, pada dasarnya, logo itu hanya terbagi kepada tiga jenis saja.

Ketiga jenis logo Tersebut adalah, Icon logo, type/teks, dan logo dengan kombinasi antara keduanya.

1. ICON LOGO

Icon logo adalah logo yang berdiri pada sebuah icon khusus. Sebagai contoh, logo Apple, Nike, MSN dan masih banyak lagi yang lainnya. Ikon logo sangat efektif jika logo lebih ditujukan untuk menanamkan brand karena sifatnya yang memorable (mudah diingat) dan simple.

2. TEKS/TYPE LOGO

Logo dalam jenis ini adalah logo yang berupa teks/typo, yaitu kumpulan huruf yang biasanya berupa nama atau inisial perusahaan terkait. contoh dari logo jenis ini dapat ditemukan pada logo Walt Disney, CNN, Fedex, dll.

3. KOMBINASI TEKS DAN IKON

Logo jenis ini adalah kombinasi dari kedua jenis logo diatas, yaitu berupa perpaduan antara teks dan ikon. Jenis logo seperti ini adalah yang paling mungkin untuk memuat informasi lebih banyak, namun sangat riskan, mengingat ada lebih banyak item yang harus diletakkan sehingga ditakutkan akan tidak mudah untuk diingat.

Dalam media periklanan, Typography memegang peranan yang sangat penting. Typography adalah media yang akan menjadi titik kunci untuk menyampaikan pesan-pesan sehingga mencapai sebuah tujuan. Sebuah typography yang baik dalam media periklanan tidak hanya indah dan enak dilihat, tapi juga benar dan sesuai sebagai media yang mampu menyampaikan komunikasi satu arah kepada target marketing. Apa gunanya sebuah typography yang menarik jika tidak bisa dibaca!? Typography seperti itu hanya akan berubah peran sebagai sebuah image atau gambar pajangan sebagai daya tarik, namun tidak mampu menjelaskan tujuan apapun yang terkandung didalamnya.

Berikut adalah hal-hal penting yang saya dapat dari berbagai sumber maupun pengalaman pribadi mengenai kesalahan-kesalahan fatal yang terdapat dalam typography di dalam sebuah advertising layout design :

1. Besar Font

Hal utama yang harus diperhatikan adalah besar huruf yang anda gunakan untuk menandai tipe pesan dari sebuah text.
jangan memberikan ukuran font yang terlalu kecil untuk judul sehingga hampir tidak bisa dibedakan dengan text lain, dan jangan pula memberi ukuran yang terlalu besar sampai kelihatan terlalu menonjol dan kontras dengan tezt lain sehingga membuat pesan yang disampaikan oleh text non-judul terabaikan.
Buatlah sebuah daftar urutan untuk menandai tipe teks seperti judul, sub judul, isi, dsb sebagai referensi besaran font yang akan anda gunakan nantinya.


2. Warna Font

Serasikan warna font dengan background latar agar mudah dibaca. Font yang susah dilihat karena ‘tabrakan’ dengan warna background tidak hanya akan membuat pesan tidak sampai, tapi juga cukup membuat jengkel pembaca. seperti blog misalnya, pembaca tidak akan rela berkedip-kedip di depan layar monitor cuma untuk membaca tulisan anda. Kalaupun isi blog cukup penting bagi mereka, paling juga di copas dan dibaca di note pad.


3. Terlalu banyak Font

Hal fatal lainnya adalah menggunakan terlalu banyak jenis font didalam sebuah layout. Ini sangat berbahaya, karena dapat mengaburkan fokus pesan. Walhasil, maksud dari pesan pun tidak dapat tersampaikan dengan baik.


4. Font yang Susah Dibaca

Mungkin tergoda oleh bentuk lika-liku font atau entah apa, sehingga banyak yang melakukan kesalahan ini. Gunakanlah font pada tempatnya. Pembaca tidak akan berhenti dari ketika sedang berkendara hanya untuk melihat dengan jelas nama dari sebuah toko yang menggunakan font begitu rumit sehingga sulit dibaca sambil lewat.


5. Kerapian

Kerapian adalah hal yang paling sering diabaikan oleh kebanyakan graphic designer dalam melakukan layout design. Padahal kerapian adalah kunci yang membuat pembaca tertarik untuk melihat lebih jauh mengenai pesan yang dimuat didalam sebuah media.

Dalam artikel sebelumnya, kita telah mengenal pengertian dan fungsi dari branding dan logo. Kali ini, kita akan masuk kepada panduan praktis tentang bagaimana membuat sebuah logo. Panduan ini telah banyak digunakan oleh desainer logo terkenal dunia dan terbukti efektif menciptakan logo-logo terkenal yang fungsional dan mampu memenangkan perhatian target konsumennya. Semoga panduan singkat ini dapat memberikan kontribusi dan sumber pembelajaran bagi mereka yang menggeluti bidang desain logo.

Beberapa tahap penting yang harus diperhatikan dalam desain logo meliputi:

1) Riset

Panduan Membuat Logo

img source

Riset adalah faktor yang paling penting ketika kamu mulai untuk mendesain sebuah logo. Riset kita gunakan untuk mendapatkan banyak informasi tentang perusahaan yang akan berguna sebagai dasar dan panduan kita dalam menciptakan konsep. Mulai lakukan riset dengan mempelajari perusahaan klien, baik dalam segi keunggulan dan kelemahan, maupun sisi unik dan layanan yang ditawarkan perusahaan kepada konsumen.

Kembangkan riset dengan mencari tahu siapa target konsumen perusahaan. Cari tahu rata-rata usia, kemampuan ekonomi, gaya hidup, dan status sosial target konsumen. Informasi ini berguna sebagai patokan agar logo nantinya sesuai dan dapat diterima oleh target pasar yang dituju.Riset juga meliputi pencarian informasi terhadap persaingan di bidang industri yang digeluti perusahaan. Pelajari juga konsep branding yang digunakan kompetitor klien dalam memperkenalkan merek mereka.

2) Konsep

Panduan Membuat Logo

img source

Setelah tahap riset selesai, dan kita telah mendapat cukup informasi tentang perusahaan, maka kita akan masuk kepada tahap mentransfer informasi tersebut kedalam sebuah konsep. Konsep disini bisa kita artikan dengan panduan bagaimana logo akan didesain. Pada tahap ini, kita akan melalui sebuah proses untuk menemukan ide yang tepat untuk disulap menjadi sebuah logo.

Cara umum yang efektif dan sering dipakai dalam menemukan ide dan konsep yang matang adalah dengan mind mapping (pemetaan pikiran). Dengan mind mapping, kamu akan menemukan ide-ide dengan proses yang sederhana, yaitu dengan memetakan setiap kata kunci yang mungkin terkait dengan perusahaan. Kamu bisa baca selengkapnya tentang mind mapping dalam desain grafis disini : Mind Mapping dalam Desain Grafis

Selain itu, tahap ini juga meliputi pencarian inspirasi terkait dengan project logo yang sedang kita kerjakan. Kita mulai dengan mencari logo-logo dari perusahaan kompetitor untuk melihat bagaimana mereka merefleksikan perusahaan mereka melalui sebuah logo. Lihat juga trend logo yang umum dipakai dalam industri perusahaan yang sedang kamu desain logonya. Proses ini akan memberikan kita informasi untuk menampilkan sesuatu yang unik dan berbeda dari perusahaan-perusahaan kompetitor.

3) Sketsa

Panduan Membuat Logo

img source

Sketsa adalah proses penting dimana kita bisa menemukan berbagai kemungkinan dengan cepat dalam waktu yang cukup singkat. Agency branding dan visual identity terkenal di dunia sepert Landor juga masih mengandalkan sketsa dalam proses pembuatan sebuah logo. Jadi jangan terburu-buru untuk langsung terjun ke komputer. Berlama-lama lah dahulu di sketsa sampai kamu menemukan beberapa bentuk yang sesuai untuk dieksekusi dalam format digital.

Gunakan variasi untuk logo dalam sketsa. Misalnya, logo dengan ikon, logo tanpa ikon, maupun penggabungan dari keduanya. Kecuali memang ada batasan khusus dari klien mengenai bagaimana jenis logo yang mereka inginkan.

4) Eksekusi

Panduan Membuat Logo

img source

Tahap ini merupakan suatu proses yang sifatnya teknis. Disini kamu mulai mentransfer hasil sketsa kedalam software grafis seperti Adobe Illustrator, CorelDRAW, atau Inkscape. Saya sarankan untuk tidak menggunakan aplikasi berbasis raster seperti Photoshop, karena logo harus bisa diskalakan ke dalam berbagai ukuran. Aplikasi pengolah gambar vektor tetap jadi pilihan terbaik karena tidak terpengaruh resolusi gambar.

Dalam tahap eksekusi ini, kamu harus sudah paham bagaimana cara menggambar vektor dengan baik untuk menghasilkan lekukan yang sempurna sehingga logo tampak enak untuk dilihat. Dalam proses ini, sebaiknya juga dimulai dengan tampilan logo hitam dan putih. Logo yang bagus dalam tampilan hitam dan putih juga akan bagus dalam tampilan berwarna. Selain itu, pelajari tipografi dan prinsip dasar penggunaan warna dalam desain grafis.

5) Uji coba

Panduan Membuat Logo

Ada beberapa uji coba/tes kecil yang harus dilakukan untuk melihat fungsi sebuah logo :

1) Tes tampilan logo dalam berbagai variasi ukuran, perhatikan apakah logo akan kehilangan bentuk dalam ukuran kecil.

2) Tes tampilan logo dengan meletakkannya diantara logo-logo perusahaan kompetitor dan diantara logo-logo yang sudah terkenal. Lihat apakah logo cukup menarik perhatian dan punya ciri khas unik yang membedakannya dengan yang lain.

3) Tes tampilan logo jika dikombinasikan dengan background yang variatif seperti background terang, gelap, maupun background bertekstur dan dengan gambar sebagai latar belakang.

6) Evaluasi

Panduan Membuat Logo

img source

Posisikan diri sebagai target konsumen dan tanyakan pada diri kamu sendiri beberapa hal ketika kamu melihat logo tersebut:

1) Bagaimana perasaan kamu ketika melihat logo tersebut?
2) Apakah logo cukup relevan dan mampu menjelaskan apa yang ditawarkan perusahaan?
3) Apakah logo cukup unik sehingga mudah diingat?
4) Apakah logo membangun trust (kepercayaan) pada diri kamu terhadap perusahaan?
5) Apakah bentuk visual logo cantik dan menarik?
6) Apakah logo cukup menarik perhatian?

7) Feedback

Panduan Membuat Logo

img source

Terakhir dan cukup penting, dapatkan feedback atau masukan membangun dari sebanyak mungkin orang yang bisa kamu mintai feedback. Feedback juga merupakan evaluasi namun melibatkan orang lain. Hal ini penting untuk menyerap pendapat, masukan, dan kritik membangun sebelum logo mulai dipresentasikan kepada klien.

Kumpulan TIPS DESAIN LOGO dari Desainer-desainer Logo Terkenal

Desain logo merupakan salah satu bagian dari desain grafis tingkat tinggi dan cukup sulit untuk ditekuni (setidaknya menurut saya). Kenapa? karena logo adalah identitas. sebuah identitas haruslah unik agar mudah dikenali dan dibedakan dengan yang lain. Selain itu, seorang desainer logo juga harus mampu melihat jauh kedepan. Lihat saja bagaimana logo Nike yang masih tetap bertahan dengan kesederhanaannya, padahal sudah puluhan tahun lamanya setelah logo itu dibuat.

Ada banyak cara untuk belajar desain logo, salah satunya adalah belajar dari desainer logo yang handal. Setiap desainer pasti punya cara masing-masing dalam memecahkan masalah untuk membuat logo. Dengan belajar tips-tips desain logo yang berbeda dari mereka, kita akan punya banyak referensi dan dasar yang kuat dalam membuat sebuah logo.

Berikut beberapa temuan Desain Studio berupa tips-tips dari beberapa desainer logo yang cukup terkenal di dunia :

1. Jacob Cass @justcreativedesign.com- What Make a Good Logo

2. David Airey @davidairey.com- 5 useful logo design tips

3. Leighton Hubbell @logodesignerblog.com- Logo Design Tips & Interview with Leighton Hubbell

4. Jeff Fisher @justcreativedesign.com- Logo Design Tips & A Not-So-Ordinary Interview with Logo Designer, Jeff Fisher

7 Realita Desain Grafis

Posted: Juni 20, 2011 in Desain Grafis

7 Realita Desain Grafis

Secara tidak sengaja saya menemukan sebuah artikel dengan judul “7 Mitos dan Fakta Desain Grafis” oleh Surianto Rustan di web site DGI. Setelah saya baca artikel ini cukup menggelitik saya untuk menulis dari perspektif yang lain… hmmm… bagaimana jika judulnya “7 Realita Desain Grafis”… yes this is fact not fiction… ya ini kejadian di dunia nyata… bukan mimpi… kali ini otak saya saya bawa benar-benar ke realita di kehidupan sehari-hari hingga ke khayalan tingkat tinggi… dimana basic needs today is money… tanpa itu kamu tidak bisa makan… at least kamu tidak bisa ngelamar kerjaan dan ikut interview di kantor yang bersangkutan… buat beli bensin ato bayar angkot… so, buang jauh-jauh yang namanya idealisme dalam postingan kali ini… here we go guys…

Surianto said:

Myth #1: Desain grafis itu komputer
Komputer memang digunakan dalam proses mendesain, namun tidak seluruhnya, dan bukan yang paling utama. Merancang solusi untuk suatu masalah adalah yang paling utama dalam desain grafis, ini dilakukan dengan riset / wawancara, membuat catatan*. Sama sekali belum menggambar, apalagi menggunakan komputer.

Reality:
Get a life… beberapa kali saya ikutan interview di beberapa tempat (ini masih ada kaitannya sama ngedesign, bukan interview untuk masuk majalah ato mau masuk kuliah atau waktu ujian bahasa Inggris). Pertanyaan mereka akan diakhiri ato setidaknya akan ngomong: ”Punya laptop?”, “Punya Mac?”. Ini belum masuk kerja sudah ditanyain komputer. Ada yang salah? Siapa yang salah? Kebutuhan untuk harus tetep hidup dan menghidupi orang lain setiap bulannya? Dan saya tidak bisa bilang itu gambar sih jika emang dilaksanakan… paling namanya coret-coret asik. Dari yang isinya konsep asik sampe isinya curhatan hati asik jika duit bulan ini sudah habis. Dan ketika semua masuk era digital, rata2 coret-coretnya pake wacom dong di photoshop dari pada harus bawa A3 kemana-mana bener-bener tidak efesien tempat… dan seberapa banyak sih kerjaan yang emang bener-bener merancang solusi dari sebuah masalah jika akhirnya harus tunduk sama maunya client? Trus siapa dong problem solvernya?

Surianto said:

Myth #2: Bisa Photoshop / Illustrator / CorelDraw = bisa desain grafis
Software itu bukan desain grafis / bukan alat utama dalam desain grafis. Ia hanya alat bantu dalam membuat karya desain grafis. Bisa mengoperasikan software-nya belum tentu bisa mendesain dengan baik.

Untuk menghasilkan karya desain yang berhasil, ada tahapan kerja dan prinsip-prinsip yang harus diterapkan. Software tidak mengerti hal itu, ia hanya alat. Yang harus mempelajari adalah si pemakainya.

Desainer grafis tidak menggantungkan dirinya pada software, tapi pada otaknya yang kreatif. Riset, analisa, mencari strategi visual dan komunikasi adalah proses awal mendesain. Hal itu tidak bisa dilakukan oleh Photoshop, Illustrator, CorelDraw, atau software lainnya, hanya otak kita yang dapat melakukannya.

Reality:
Realitanya apa iya semua client mau bayar lebih mahal buat masalah riset, analisa hingga proses itu kelar jika tiap disodorin harga sekian pasti bilang “kemahalan” ato “out of budget” dan hal macem ini yang akhirnya bikin yang profesional pun even sudah pake Mac mau tidak mau softwarenya tetep harus pake yang crack alias bajakan. Bisa menggunakan software adalah benar belum tentu bisa mendesain dengan baik, tapi bisa mendesain dengan baik apakah bisa dapat dengan harga murah (jika berbicara industri maka kaitannya dengan ekonomi. Sehingga saya harus ingat salah satu hukum ekonomi yang mengatakan: mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan pengeluaran sekecil-kecilnya), nah loh bagaimana jika sudah seperti ini? Ya jangan heran jika banyak staf ahli setting di tempat printing dan semacemnya, dan atau orang-orang yang quick course Adobe, Freehand, Corel itu bisa mengidentifikasikan dirinya sebagai graphic designer. Ya toh jika diliat dari mata client kerjaannya sama… sama-sama bisa bikin kartu nama, bisa bikin promotional item, dan yang lainnya. Permasalahannya kan di sini (baca: Indonesia) tidak ada batasan baku bahkan aturannya mana profesi yang profesional dengan amatiran ato karbitan yang mana secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi permasalahan yang lain kan. Jadi? Saya tidak bisa nyalahin mereka-mereka yang ingin mencari uang untuk tetap bisa hidup… toh mereka juga tetap kreatif… dilihat dari keahliannya membuat solusi untuk orang-orang yang punya budget terbatas untuk masalah desain grafis.

Surianto said:

Myth #3: Desain grafis itu membuat iklan
Membuat iklan memang salah satu pekerjaan yang cukup banyak ditekuni oleh desainer grafis, tapi bukan itu satu-satunya. Branding, editorial & penerbitan, desain kemasan / packaging, web & development, adalah di antara sekian banyak yang juga ditekuni oleh desainer grafis.

Reality:
Yesss… it’s absolutely fact. Tapi yang lagi hype sekarang itu BRANDING. Jika diliat-liat dan diperhatikan semakin banyak studio baru dengan embel-embel branding… pencitraan… saya rasa gara-gara Indonesia lagi dipimpin sama presiden yang gila pencitraan deh… keranjingan semenjak kampanye pemilu kemaren. Btw, bukannya branding itu kerjaannya orang marketing ama ekonomi ya?

Surianto Said:

Myth #4: Desain grafis itu cuma make-up, menghias sesuatu supaya lebih indah
Yang sekadar menghias itu bukan desain grafis, tetapi dekorasi, tujuannya memang cuma satu: untuk memperindah. Tidak ada fungsi lainnya.

Kalau desain grafis, selain memperindah ia juga punya fungsi: menyampaikan pesan dan identitas. Tujuannya untuk menjual, memberi informasi, menanamkan citra ke benak konsumen, dan lain-lain.

Reality:
Yup. ini tidak tau persepsi datang dari mana… tapi yang pasti kami memiliki persamaan tujuan: sama-sama mencari duit, sama-sama mau tidak mau hidup susah. Ya memang di dalam desain grafis tidak setiap karya desain grafis hasilnya akan indah jika di liat dari idealnya. Dan idealnya, memang perlu dapat menanamkan citra dan lain lain ke benak konsumen, tapi jika di benak client sudah senang, pasti akan indah memang pada akhirnya bukan?

Surianto said:

Myth #5: Desain grafis itu masalah selera. Kalau saya bilang suka, orang lain mungkin tidak suka.
Kalau berupa dekorasi saja mungkin bisa dinilai tergantung selera pribadi: “suka”, “tidak suka”. Tetapi kalau desain grafis dinilai secara keseluruhan, maka penilaiannya jadi: “apakah ia dapat menjual?”, “apakah berhasil menginformasikan?”, “apakah terbangun citra yang diharapkan?”, dan penilaian-penilaian lain yang sifatnya objektif, bukan subjektif / selera pribadi.

Reality:
Sikap diktator dan otoriter client sangat berpengaruh besar untuk hal satu ini… jadi yang pasti selera kliennya dong. Karena mereka  yang memiliki duit, designer-nya sebagai penyedia jasa ya manggut-manggut saja biar dibayar, dan akhirnya frase “OUT OF THE BOX”  hanya sebagai gimmick saja. Lalu bagaimana berpikir out of the box jika dari yang memberi kerjaan sudah memberi batasan sana sini.

Surianto said:

Myth #6: Untuk menjadi desainer grafis, yang paling penting punya bakat seni
Bakat seni memang diperlukan dalam mendesain, tapi bukan segala-galanya. Kerajinan dalam berlatih, keberanian mengeksplorasi hal-hal baru, kreativitas, kemampuan logika, analisa, komunikasi, kepekaan, dan masih banyak lagi kemampuan yang lebih dibutuhkan untuk menjadi seorang desainer grafis.

Bila hanya mengandalkan bakat dan tidak mengembangkan kemampuan lainnya, tidak akan membuat seseorang menjadi desainer grafis yang baik.

Reality:
Setelah tau keotoriteran dan kediktatoran client bermain besar dalam hal kreativitas, maka bakat seni adalah nomer 2. Bakat menganalisa, peka terhadap client adalah yang paling penting… harus tau client sukanya bagaimana dan seperti apa (rata-rata pikiran seperti ini keluar setelah proses panjang tawar menawar hingga akhirnya capek sendiri atau bahasa kerennya frustasi). Komunikasi juga sangat penting, untuk bisa meloloskan sebuah desain (jika tetep kekeh, selain bisa dapet kerjaan lain dan networking) tapi rata–rata akan berakhir di realita yang pertama yaitu frustasi.

Surianto said:

Myth #7: Desainer grafis tidak perlu bisa menggambar. Desainer grafis harus jago menggambar
Desainer grafis perlu bisa menggambar, walaupun tidak perlu bagus sekali. Karena menggambar itu sebetulnya mengatur pemikiran / ide-ide, sebagaimana seorang penulis mengatur kata-kata dalam tulisannya.

Desainer grafis perlu punya kemampuan menggambar untuk mempermudah mewujudkan ide-idenya sendiri, atau untuk menerangkan ide tersebut kepada orang lain untuk diwujudkan secara visual, contohnya seorang art director kepada anak buahnya.

Reality:
Dengan melihat mitos seperti itu dan dengan realita yang ada sepertinya saya tidak akan jadi graphic designer mengingat saya masih harus ngulang mata kuliah menggambar #2, juga menggambar #1 saya dapet D. Namun tenang, jika dah kerja dan nasib seperti saya yang tidak bisa gambar bisa dikasih ke illustrator… bingung karena tidak bisa gambar dengan posenya gimana perspektifnya gimana? Tinggal berpose seperti yang diinginkan, di foto lalu cari referensi visual, kasih ke illustrator. Masalah selesai… menyelesaikan masalah tanpa membuat masalah baru (kemungkinan hanya ada pengeluaran baru).

Memang realita lebih kejam dari pada harapan. Realita-realita di atas hanya sebagai gambaran saja gimana serunya kehidupan di dunia kreatif. Pilih cari aman asal nyaman, atau idealis tapi melihat kantong mau nangis? Ya itu semua pilihan. Namun di balik semua itu ada beberapa hal yang pasti: KULIAH ITU MAHAL, SOFTWARE DESIGN ASLI ITU MAHAL, LISTRIK ITU MAHAL, BENSIN MAHAL dan rata-rata teman-teman client tidak pernah memikirkan hal ini. Lucu saja jika kenyataannya dunia kreatif yang nyatanya berhubungan dengan kekayaan intelektual, membuat karyanya dengan media yang secara terpaksa harus tidak menghargai kekayaan intelektual orang lain (baca: software design). Lucu saja jika akhirnya seorang graphic designer yang di kampus selalu di doktrin oleh para dosen-dosennya bahwa seorang graphic designer adalah seorang problem solver, namun di dunia nyata harus bekerja tak beda dengan seorang kuli? Jikalau memang kenyataannya harus seperti itu, lalu buat apa kami para mahasiswa desain grafis harus mengeluarkan duit berpuluh- puluh juta jika pada akhirnya memang hanya untuk mendapatkan gelar sarjana saja dan mendapatkan realita yang seperti ini? Serta berkata bohong kepada orang tua kami yang telah membiayai kami selama 4 tahun kuliah kalau kami adalah seorang problem solver dengan pekerjaan yang sangat menyenangkan seperti mimpi kami ketika awal mula memasuki perkuliahan desain grafis?